PENERAPAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PRINSIP PEMBELAJARAN TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

             A.   Pendahuluan

1.      Latar Belakang
Pada saat ini sistem pendidikan menjadikan peserta didik sebagai manusia yang tercabut dari realita atau kenyataan sekarang ini. Karena guru telah mendidik siswanya untuk menjadi dirinya sendiri, artinya kebebasan dan pengakuan seorang guru sangatlah kurang dalam mendapat perhatian yang secara maksimal.akhirnya pendidikan bukanlah menjadi sarana untuk menumbuhkan potensi anak didik akan tetapi malah akan menjadikan manusia yang siap cetak untuk kepentingan tertentu.
Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut serta menentukan keberhasilan anak dalam belajar (Rifa’i 2012: 133). Motivasi tidak hanya penting untuk membuat peserta didik melakukan aktifitas belajar, melainkan juga menentukan banyaknya peserta didik dapat belajar dari aktivitas yang dilakukan dan menunjukkan proses kognitif yang tinggi dalam belajar, menyerap dan mengingat apa yang telah dipelajari.
Behavioristik merupakan suatu teori pembelajaran secara psikolog yang berfokus materi kajiannya hanya pada prilaku nyata (overt Behavior)tidak terkait dengan hubungan kesadaran atau kontruksi mental.dimana ciri teori ini adalah guru bersifat otoriter dan sebagai agen induktrinasi dan propoganda serta sebagai pengendali masukan prilaku.Hal ini dikemukakan karena behavioristik  menganggap bahwa manusia itu bersifat pasif dan segala sesuatunya tergantung pada stimulus yang didapatkannya.
Menurut Novi Irwan Nahar (2016 : 73) menyatakan bahwa dalam model pembelajaran behavioristik cenderung mengarahkan siswanya untuk berfikir dan proses cenderung ke proses pembentukan yaitu siswa dibawa ke pencapaian target tertentu sehingga siswa kurang begitu bebas berkreasi dan berimajinasi.hal yang paling penting dalam model pembelajaran ini antara stimulus dan respon dianggap tidak begitu penting untuk diperhatikan karena tidak diamati dan diukur.oleh sebab itu apa yang diberikan oleh guru dan apa yang dihasilkan oleh siswa semuanya harus diamati dan diukur yang bertujuan untuk melihat terjadinya perubahan tingkah laku.
Implementasi pembelajaran behavioristik sendiri yang berada di SD meliputi pemberian stimulus, tugas, penguatan dan hukuman.dalam pembelajaran guru harus memberikan stimulus agar siswa belajar sesuai apa yang diharapkan  serta mendapat hasil belajar yang diharapkan.selain itu juga harus memberikan tugas tugas agar siswa lebih memahami materi yang sedang diajarkan.Dalam penerapanteori behavioristik ini dan prinsip prinsip pembelajaran tersebut guru cenderung hanya melakukannya sebagai rutinitas budaya saja belum memahami dan mengetahui tujuan, manfaat dan pentingnya menerapkan teori behavioristik dalam prisip prinsip pembelajaran.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas maka, peneliti tertarik tentang pengaruh penerapan teori belajar behavioristik dan prinsip pembelajaran terhadap motivasi belajar peserta didik baik secara persial maupun silmutan.
2.      Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan praktik baik ini adalah untuk mendiskripsikan praktik baik penulis dalam meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran model behavioristik dan prinsip prinsip pembelajaran pada siswa SD.



C. Kajian Pustaka
1.Motivasi Belajar
Definisi Motivasi
Motivasi berasal dari kata “ motif “ yang artinya sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai penggerak dari dalam dan didalam subjek untuk melakukan aktivitas aktivitas tertentu demi mencapai tujuan.(Sudirman 2011:173)
Motivasi diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat kemauan dalam melaksankan suatu kegiatan.kemauan baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi Intrinsik).seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan kualitas prilaku yang ditampilkannya, baik dalam kontek belajar, bekerja maupun dalam hidupnya.(Siti Suprihatin 2015: 75)
Dari uraian diatas maka disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat internal yang berperan untuk menumbuhkan gairah,merasa senang dan semangat dalam belajar.seorang peserta didik haruslah memiliki motivasi yang tinggi  untuk melakukan kegiatan atau tindakan belajar baik berasa dari dalam maupun luar pembelajaran.

Teori Teori Motivasi
Terdapat beberapa teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli, berikut ini beberapa teori motivasi yang populer digunakan (Danardjati 2014). 

1. Teori Motivasi Belajar Abraham Maslow (1943-1970)

Hirarki kebutuhan Maslow merupakan salah satu teori motivasi paling terkenal.
Abraham maslow mengemukakan bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu hirarki atau jenjang peringkat. Ia menunjukan dalam lima tingkatan yang berwujud piramid, dimana kebutuhan dimulai dari yang paling bawah. Lima tingkat kebutuhan Maslow lebih dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks yang akan menjadi kebutuhan setelah kebutuhan dibawahnya terpenuhi.

2. Teori Dua Faktor Herzberg

Teori motivasi Maslow tentang motivasi secara mutlak membedakan antara kebutuhan aktualisasi diri sebagai kebutuhan yang bercirikan perkembangan dan pertumbuhan individu, sedangkan kebutuhan-kebutuhan yang lain untuk mengejar suatu kekurangan.

3. Teori Motivasi Harapan

Teori motivasi harapan dikemukakan oleh Vroom. Vroom mengemukakan bahwa orang-orang akan termotivasi melakukan hal-hal tertentu guna mencapai tujuan apabila mereka yakin behwa tindakan mereka akan mengarah pada pencapaian tujuan tersebut (Sobur 2003: 286).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi memiliki peran yang sangat besar dalam belajar. Motivasi bukan saja penting karena menjadi faktor penyebab belajar, tapi juga memperlanjar belajar dan memaksimalkan hasil belajar. Selain memerhatikan kualitas pembelajaran dan kemampuan peserta didik pendidik juga harus bisa dan mengetahui kapan peserta didik membutuhkan motivasi.

    

Teori Belajar Behavioristik

Definisi Teori Belajar Behavioristik

Belajar merupakan proses perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang dimaksud dapat berwujud perilaku yang tampak (overt behavior) atau perilaku yang tidak tampak (innert behavior). Perilaku yang tampak misalnya menulis, memukul, menendang, dsb sedangkan perilaku yang tidak tampak misalnya berpikir, bernalar, berkhayal, dsb. Perubahan perilaku yang diperoleh dari hasil belajar bersifat permanen yag berarti perubahan perilaku tesebut akan betahan relatif lama, sehingga pada suatu saat perilaku tersebut dapat dipergunakan untuk merespon stimulus yang sama atau hampir sama. Namun tidak semua perubahan perilaku adalah wujud dari hasil belajar, misalnya seseorang menarik jarinya secara reflektif karena terkena api. Adapula perubahan perilaku yang disebabkan oleh faktor kematangan, misalnya seorang anak kecil umur 9 bulan dapat berjalan karena telah mencapai kematangan untuk berjalan (Rifa’i 2012: 89).
Behavoristik memandang bahwa lingkungan adalah pembentuk perilaku individu (Baruque 2014: 344).  Aliran behavioristik memiliki pandangan bahwa hasil belajar (perubahan perilaku) bukanlah berasal dari kemampuan internal manusia (insight) tetapi karena faktor stimulus yang menimbulan respons. Untuk itu agar aktivitas belajar siswa bisa mencapai hasil belajar yang maksimal, maka harus menggunakan stimulus yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menimbulkan respons yang positif dari siswa. Oleh karena itu siswa akan memperoleh hasil belajar apabila dapat menemukan hubungan antara stumulus (S) dengan respons (R) (Rifa’i 2012: 90).

Jenis-Jenis Teori Belajar  Behavioristik

Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan teorinya mengenai belajar yang termasuk klasifikasi teori belajar behavioristik, diantaranya yang paling populer adalah Edward Lee Thorndike, Ivan Pavlov dan Frederic Skinner

                        1.  Teori Koneksionisme

                                    Teori koneksionisme dikembangkan oleh Thorndike (1874-1949) dari Amerika. Dalam melakukan eksperimennya Thorndike menggunakan kucing dengan meneliti kecepatan kucing untuk bisa keluar dari kandang. Menurut Thorndike koneksi (connection) merupakan asosiasi antara kesan-kesan penginderaan dengan dorongan untuk bertindak, yakni upaya untuk menggabungkan antara kejadian penginderaan dengan perilaku. Dalam hal ini Thorndike menitik beratkan pada aspek fungsional dari perilaku bahwa proses mental dan perilaku organisme berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan (Rifai 2012: 97). 

2. Teori Operant Conditioning

Teori operant conditioning dikembangkan oleh Federic Skinner (1904-1990). Dalam melakukan eksperimennya skinner menggunakan tikus lapar sebagai hewan percobaan. Diasumsikan bahwa tikus yang lapar akan memiliki dorongan untuk mencari makan. Tikus yang sedang lapar dimasukan kedalam kandang dan tidak diberikan makanan. Kemudian dalam box itu diberikan makanan yang dihubungkan dengan tuas. Apabila tuas ditekan maka makanan akan keluar (penguatan positif). Akibatnya jumlah tikus menekan tuas semakin meningkat agar bisa mendapat makanan. Kemudian alat pemberi makanan tersbut diputuskan dengan tuas, ternyata tikus tetap menekan tuas.

3.  Teori Belajar Classical Conditioning

Teori belajar calassical conditioning dikembangan oleh Ivan Pavlov (1849-1936) asal Rusia. Dalam teori belajar calassical conditioning, untuk mengatur perilaku bisa dilakukan dengan melakukan pengkondisian yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang. Dalam percobaannya Pavlov menggunakan anjing sebagai objek penelitiannya. Pavlov meneliti bagaimana anjing bisa terkondisi berliur meskipun tidak diberi daging (Nahar, 2016: 69). 

Stimulus Tidak Berkondisi (daging)

Respons tidak berkondisi
(
keluar air liur)
Stimulus Netral (bel)



tidak terjadi respons
 

Prinisip-Prinsip Belajar

            Pengertian Prinsip-Prinsip Belajar

Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip pembelajaran bisa diartikan sebagai pedoman yang menjadi pokok dasar atau landasan dalam pembelajaran (Dimyati 2006: 42)
Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar ini. Implimentasi prinsip-prinsip pembelajaran tampak dalam rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Implementasi prinsip-prinsip pembelajaran bisa tampak dalam perilaku fisik maupun psikis yang terwujud dalam perilaku guru yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.

Manfaat Teori Belajar dalam Pembelajaran


Teori belajar merupakan seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan kenyataan mengenai belajar. Sugiyanto (2004) mengungkapkan beberapa manfaat teori belajar bagi guru, diantaranya:
1)      Membantu guru memahamai bagaimana siswa belajar
2)      Membimbing guru merancang dan merencanakan proses pembelajaran
3)      Panduan guru mengelola kelas
4)      Membantu guru mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri dan hasil belajar siswa
5)      Membantu proses belajar lebih efektif dan efisien
6)      Membantu guru memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa untuk mencapai prestasi maksimal
              2.    PEMBAHASAN
       Menurut (Sigit Sanyata,2012 :8) Empat Pilar utama dalam behaviristik adalah Classical Conditioning, Operant Conditioning,Social Learning theory dan Cognitive behavior therapy.Dalam teori pengkondisian klasik perubahan prilaku yang diharapkan merupakan stimulus langsung.terjadinya suatu prilaku tentu disebabkan oleh stimulus tertentu yang secara langsung terkait.
Paradigma utama dari pola dasar belajar pada manusia adalah stimulus dan respon.pada dasarnya konsep belajar manusia ditunjukkan pada kemampuan dalam proses belajar yang dilakukan sehingga mampu memahami materi yang dapat menimbukan hasil yang dicapai.
Motivasi adalah salah satu hal yang berpengaruh pada kesuksesan aktifitas pembelajaran siswa.tanpa motivasi pembelajaran akan sulit mencapai kesuksesan yang yang optimum (ghullam Hamdu, 2011:90)
Teori Behavioristik cenderung bersifat direktif dan memberi arahan kepada sebuah motivasi belajar.dimana motivasi sangatlah berperan dalam kegiatan pembelajaran baik itu diluar maupun didalam kelas.
Aplikasi teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, guru perlu menyiapkan dua hal yang meliputi (1) menganalisis kemampuan awal dan karakteristik siswa dan (2) merencanakan materi pembelajaran yang akan dibelajarkan (Hamalik 2004: 38).
Secara umum, guru bisa merancang pembelajaran dengan berpijak pada teori belajar behavioristik, seperti yang dikemukakan Suciati dalam Budiningsih (2005: 29) yang meliputi:
1)      Menentukan tujuan pembelajaran
2)      Menganalisis lingkungan kelas termasuk kemampuan awal siswa
3)      Menentukan materi pembelajaran
4)      Memecah materi pelajaran menjadi sub-sub kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topik, dsb
5)      Menyajikan materi pelajaran
6)      Memberikan stimulus dapat berupa pertanyaan (tertulis, tugas, lisan, dsb)
7)      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa
8)      Memberikan penguatan (positif ataupun negatif)
9)      Memberikan stimulus baru
10)  Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman
11)  Pembentukan kebiasaan melalui pengulangan
12)  Evaluasi hasil belajar 
Sementara menurut Mukinan dalam Nahar (2016: 72) terdapat beberapa prinsip utama dalam teori belajar behavioristik yaitu (1) dinamika dalam belajar adalah perubahan tingkah laku; (2) yang paling penting adalah stimulus dan respons; dan (3) penguatan, yaitu apa saja yang menguatkan timbulnya respons. 
Berdasarkan penjelasan diatas tentang implementasi teori belajar behavioristik dalam pembelajaran maka disimpulkan beberapa indikator pelaksanaan teori belajar yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi (1) menganalisis lingkungan kelas yang ada; (2) memecah materi menjadi sub-sub kecil; (3) pemberian rangsangan; (4) Pemberian tugas; (5) pemberian reinforcement; dan (6) pemberian punishment. Sedangkan penerapan teori belajar behavioristik merupakan penerapan teori-teori belajar yang berorientasi pada perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya stimulus dan respons
Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip pembelajaran bisa diartikan sebagai pedoman yang menjadi pokok dasar atau landasan dalam pembelajaran (Dimyati 2006: 42)
Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar ini. Implimentasi prinsip-prinsip pembelajaran tampak dalam rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Implementasi prinsip-prinsip pembelajaran bisa tampak dalam perilaku fisik maupun psikis yang terwujud dalam perilaku guru yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.
Banyak prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli, namun menurut Dimyati (2006: 42) terdapat prinsip-prinsip pelajar yang relatif berlaku umum yang bisa digunakan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik siswa untuk meningkatkan upaya belajarnya dan guru untuk meningkatkan upaya mengajar. 
Secara lebih rinci, prinsip-prinsip pembelajaran berdasarkan teori belajar behavioristik dikemukakan oleh Harley & Davis dalam Rifa’i (2016: 94)  meliputi (1) Peserta didik berpartisipasi secara aktif; (2) materi disusun berdasar unit-unit kecil dan dioganisir secara sistematis dan logis, dan (3) setiap respon peserta didik diberi balikan dan disertai penguatan.
Selain prinsip-prinsip pembelajaran berdasar teori behavioristik, juga terdapat prinsip-prinsip pembelajaran yang diambil dari teori kognitif yang dikemukakan oleh Reilley dan Lewis dalam Rifa’i (2016: 94) yang meliputi (1) menekankan akan makna dan pemahaman; (2) mempelajari materi tidak hanya proses pengulangan, tapi perlu disertai proses transfel secara lebih luas; (3) menekankan adanya pola hubungan, seperti bahan dan arti; (4) menekankan pembelajaran prinsip dan konsep; (5) menekankan struktur disiplin ilmu dan konsep; (6) obyek pembelajaran seperti apa adanya dan tidak disederhanakan dalam bentuk eksperimen dalam situasi laboratoris; (7) menekankan pentingnya bahasa sebagai dasar pikiran dan komunikasi dan (8) perlunya memanfaatkan pengajaran perbaikan yang lebih bermakna.
Menurut (Balqis, 2014 : 1) penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran merupakan salah satu kompetensi inti dari kompetensi pedagogik guru. Sehingga penerapan teori belajar behavioristik dan prinsip-prinsip pembelajaran sangatlah berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik. Untuk itu seorang guru harus mampu memahami dan menguasai teori pembelajaran terutama pada teori behavioristik serta mengaplikasikannya pada prinsip prinsip pembelajaran sehingga mampu menambah motivasi seorang siswa dalam belajar yang dapat mencapai kriteria dalam hasil yang dicapai.
Teori belajar behavioristik berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Beberapa ciri utama dari teori penerapan belajar behavioristik adalah adanya stimulus, penguatan dan hukuman. Secara umum apabila melihat ciri utama dari penerapan teori belajar behavioristik diatas merupakan faktor yang mempengaruhi motivasi belajar seperti yang diungkapkan Rifa’i (2012), yaitu faktor rangsangan dan penguatan. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Ni Kadek Sujianti (2016) tentang pengaruh reward dan punishment terhadap motivasi belajar siswa yang menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara reward dan punishment terhadap motivasi.
  Prinsip-prinsip pembelajaran bisa diartikan sebagai pedoman yang menjadi pokok dasar atau landasan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip pembelajaran meliputi: (1) perhatian; (2) keaktifan; (3) keterlibatan langsung; (4) pengulangan; (5) tantangan; (6) balikan dan penguatan; dan (7) perbedaan individual. Secara umum apabila melihat prinsip-prinsip pembelajaran diatas merupakan rangsangan-rangsangan yang diberikan oleh pengajar kepada siswa. Sedangkan rangsangan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar (Rifa’i: 2012). Sementara dalam penelitian Nur Fajri Kurniati (2015) menunjukan hasil bahwa perhatian memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi.
  Penerapan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar akan mewarnai gaya guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Dalam penelitian Chosari (2013: 637) dalam jurnalnya yang berjudul “The Study of effect of Teaching Styles (Interventional, Interactional, Non-Interventional) on Self-Efficacy: A Case Study of Secondary School Female Students” yang diterbitkan European Online Journal of Natural and Social Sciences mengemukakan bahwa gaya mengajar guru yang menarik atau tidak menarik sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.    Untuk lebih jelasnya pembahasan artikel ini dapat dijelaskan dalam bagan berikut:
 

PENUTUP

1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan:
1.      Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penerapan teori belajar behavioristik terhadap motivasi belajar siswa. Teori belajar behavioristik menekankan pada pemberian stimulus dari guru untuk menimbulkan respon belajar. Pemberian stimulus-stimulus dari guru tersebut akan menimbulkan berbagai bentuk respon belajar yang salah satunya adalah dalam bentuk motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
2.      Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penerapan prinsip prinsip pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa. Adapun dari aspek-aspek prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan, yang memiliki pengaruh paling besar adalah aspek perhatian, serta aspek balikan dan penguatan.
3.      Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penerapan teori belajar behavioristik dan prinsip-prinsip pembelajaran secara bersama-sama terhadap motivasi belajar siswa

2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut:
1.      Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penerapan teori belajar behavioristik memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Sehingga dalam hal ini guru lebih perlu memerhatikan lagi penerapan teori belajar yang diberikan kepada siswa. Terutama dalam hal pemberian reinforcement atau penguatan yang menurut siswa masih minim diberikan oleh guru. Pemberian penguatan dalam hal ini bisa berupa pemberian hadiah kepada siswa atau yang lebih sederhana dengan pemberian pujian kepada siswa.
2.      Penerapan prinsip-prinsip pembelajaran dalam penelitian ini juga menunjukan hasil terdapat pengaruh yang positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Sehingga guru juga harus memerhatikan prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan. Terutama dalam aspek pengulangan menurut persepsi siswa masih minim diberikan oleh guru. Pengulangan ini dapat berupa dengan pemberian ulangan, guru mereview pembelajaran sebelumnya ataupun dengan pemberian PR. Pengulangan disini juga akan membuat siswa lebih memahami materi yang telah diberikan karena siswa akan mereview ulang materi sebelumnya.
3.      Sebagai salah satu kompetensi inti dalam kompetensi pedagogik maka disini guru harus lebih berusaha untuk meningkatkan kompetensi pedagogik yang telah dimiliki agar bisa lebih memahami dan menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran. Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran akan berkontribusi terhadap kualitas pembelajaran.
4.      Kepala sekolah juga memiliki peran yang besar, utamanya dalam peran sebagai supervisi sekolah. Kepala sekolah diharapkan bisa selalu mengawasi dan mendorong guru dalam memahami teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru.  
DAFTAR PUSTAKA
 Balqis. 2014. Kompetensi Pedagogik Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada SMP N 3 Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Jurnal
Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Syah Kuala, 2(1): 25-38
Baruque, M. 2014. Learning Theory and Instructional Design Using Learning Objects. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 13(4): 343370.
Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Chosari, M. 2013. "The Study of effect of Teaching Styles (Interventional, Interactional, Non-Interventional) on Self-Efficacy: A Case Study of Secondary School Female Students". European Online Journal of Natural and Social Sciences 2013, 2(2): 630-640
Danardjati, D. 2014. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Ghullam Hamdu, Lia Agustina, (2011) “Pengaruh Motivasi Belajar  Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA di SD”. Jurnal Penelitian Pendidikan 12 (1): 90-96
Hamalik, O. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hwang, Y. & Jin, J. 2016. "How Does Student Motivation Affect Different Teaching Styles and Student Enggagement in Physical Education". Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 87(7)
Makmun, A. 2000. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya
MouliFatiha, at all. 2014. "Attitude and Motivations in Learning English as a Foreign Language". International Journal of Arts & Sciences, 07(03): 117128
Nahar, N. 2016. Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Proses Pembelajaran. Nusantara (Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial). 1: 64-74
Nurhidayati, T. 2012. Implementasi Teori Belajar Ivan Pavlov (Classical Conditioning) dalam Pendidikan. Jurnal Falasifa, 3(1): 23-43
O'Connor, C. 2015. "A Practice-Led Approach to Aligning Learning Theories with Learning and Theaching Strategies in Third Level Chemistry Education". Irish Journal of Academic Practice, 4(1)
Rifa’i, A. & Anni, C. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 UNNES

Rifa’i, A. & Anni, C. 2016. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 UNNES
Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Siang, J. & Santoso, B. 2016. Learning Motivation Study Engagement: Do They
Correlate With GPA? An Evidence from Indonesian University. Journal of Arts, Science & Commerce, 1(1) 
Sigit Sanyata, 2016 “Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling”. Jurnal Paradigma No.14 Th.VII, I- II
Siti Suprihatin, 2015 “Upaya Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa”. Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro 3 (1) , 73-82
 Sobur, A. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRATEGI PEMBELAJARAN DARING di MASA PANDEMI COVID 19 PADA PEMBELAJARAN ABAD 21 di SDN 2 KARANGMANGU KEC. SARANG KABUPATEN REMBANG